Berapa jumlah kartu BPJS Ketenagakerjaan (Jamsostek) yang teman-teman miliki? Sebelum hari ini jam 9.15, saya punya 3 (tiga) kartu, 1 dari perusahaan tempat bekerja saya yang kedua dan ketiga (perusahaan pertama saya tidak memberikan fasilitas Jamsostek), 1 dari perusahaan tempat saya bekerja terakhir (keempat) sebelum berganti managemen, dan 1 lagi dari perusahaan yang sama setelah berganti managemen.
Repot sih menurut saya punya lebih dari 1 (satu kartu), selain takut hilang saya tidak memiliki surat paklaring yang ditujukan ke Suku Dinas Ketenagakerjaan dari kantor lama, jadi saya membulatkan tekat untuk penggabungkan ketiga kartu yang saya punya. Selama semua persyaratan terpenuhi, prosesnya sangat mudah dan cepat.
Dokumen yang perlu disiapkan:
1. Kartu-kartu BPJS Ketenagakerjaan (Jamsostek) yang dimiliki beserta fotocopynya. Di kantor BPJS Wahid Hasyim tempat kartu terakhir saya terdaftar bagian informasinya mau sih membantu memfotocopykan dokumen yang belum ada copynya.
2. Surat keterangan kerja dari perusahaan tempat anda bekerja sesuai dengan perusahaan terakhir yang membayarkan BPJS Ketenagakerjaan kartu Anda beserta fotocopynya. Misalnya untuk kartu A, Anda bekerja di perusahaan X, Y dan Z dan perusahaan Z adalah perusahaan terakhir yang membayarkan iuran BPJS Ketenagakerjaan untuk kartu A, maka Anda hanya membutuhkan Surat keterangan kerja dari perusahaan Z.
Untuk kasus saya, saya hanya membutuhkan surat keterangan kerja dari perusahaan tempat saya bekerja ke-3 dan ke-4.
3. KTP dan fotocopynya.
4. Kartu keluarga dan fotocopynya.
Setelah semua dokumen disiapkan, yang perlu dilakukan adalah:
1. Datang ke kantor BPJS Ketenagakerjaan tempat kartu terakhir kita terdaftar (jangan lupa bawa semua dokumen).
2. Katakan pada petugas keamanan (Security) kalau kita mau menggabngkan saldo, nanti kita diberikan nomor antrian untuk bagian informasi.
3. Duduk manis sampai nomor urut kita dipanggil.
4. Sampaikan tujuan kita pada petugas informasi, nanti petugas akan melakukan pengecekan data, mengisi aplikasi entah apa di komputernya, kemudian mengembalikan semua dokumen asli kecuali kartu BPJS Ketenagakerjaan yang akan digabungkan saldonya. Kartu yang dikembalikan pada saya adalah kartu kepesertaan saya yang pertama.
Proses penggabungan kartu memakan waktu 7 (tujuh) hari kerja untuk saldo yang digabungkan dapat kita lihat.
NOTES:
Untuk teman-teman yang masih bekerja tapi tidak punya surat referensi kerja dari kantor (kartu) sebelumnya, sebaiknya meminta bantuan dari HRD untuk membuatkan surat pengantar penggabungan saldo ke kantor BPJS tempat kartu BPJS Ketenagakerjaan Anda terdaftar agar tidak perlu berurusan dengan HRD kantor lama.
Hai kolam kecil, apa isimu? Ikan kah? Lumut? Kecebong? Batu, kerikil dan pasir? Daun kering? Atau bahkan sampah? Semoga apapun isimu, selalu ada yang menengok barang sebentar. Mengintip adakah yang baru di dalammu.. Terima kasih sudah mampir....
Selasa, 18 Juli 2017
Selasa, 07 Maret 2017
Lipop Liner Pocket-Penyelamat Clodi
Halo Ibu-ibu pengguna clodi...!!
Ada koleksi clodi yang sudah mulai bocor?? Sayang banget yah, sudah dibeli mahal-mahal tapi tidak bisa dipakai. Saya punya 1 (satu) buah pocket PUL diaper yang bocor padahal baru dipakai beberapa kali. Akhirnya si clodi lucu ini pun sempat saya pensiunkan.
Syukurnya waktu saya sedang browsing mencari liner di Tokopedia (waktu itu awal Maret 2016), saya menemukan sebuah produk liner berbentuk kantung (pocket) di toko Ozan Clodi Shop. Liner pocket ini terdiri dari 2 (dua) jenis bahan, suede berwarna putih untuk bagian yang terkena kulit bayi dan kain berwarna-warni berlapis PUL pada bagian bawah untuk mencegah kebocoran. Merek Linernya adalah Lipop.
Cara penggunaannya sangat mudah, cukup masukkan lapisan penyerap (insert) clodi ke dalam Liner pocket, kemudian letakkan pada clodi cover atau masukkan pada bagian pocket clodi.
Dengan menggunakan liner pocket ini, clody baby Ve yang sudah bocor pun dapat kembali digunakan. Mama senang!!!! Dan yang lebih menyenangkan adalah harganya yang (waktu itu) cukup aman di kantong, kalau tidak salah ingat jatuhnya sekitar 5 atau 6 ribu per lembarnya.
Tapi tadi saya cek harga satuannya sudah di atas 10 ribu rupiah...
Silahkan yang mau mencoba!
Ada koleksi clodi yang sudah mulai bocor?? Sayang banget yah, sudah dibeli mahal-mahal tapi tidak bisa dipakai. Saya punya 1 (satu) buah pocket PUL diaper yang bocor padahal baru dipakai beberapa kali. Akhirnya si clodi lucu ini pun sempat saya pensiunkan.
Syukurnya waktu saya sedang browsing mencari liner di Tokopedia (waktu itu awal Maret 2016), saya menemukan sebuah produk liner berbentuk kantung (pocket) di toko Ozan Clodi Shop. Liner pocket ini terdiri dari 2 (dua) jenis bahan, suede berwarna putih untuk bagian yang terkena kulit bayi dan kain berwarna-warni berlapis PUL pada bagian bawah untuk mencegah kebocoran. Merek Linernya adalah Lipop.
Cara penggunaannya sangat mudah, cukup masukkan lapisan penyerap (insert) clodi ke dalam Liner pocket, kemudian letakkan pada clodi cover atau masukkan pada bagian pocket clodi.
Dengan menggunakan liner pocket ini, clody baby Ve yang sudah bocor pun dapat kembali digunakan. Mama senang!!!! Dan yang lebih menyenangkan adalah harganya yang (waktu itu) cukup aman di kantong, kalau tidak salah ingat jatuhnya sekitar 5 atau 6 ribu per lembarnya.
Tapi tadi saya cek harga satuannya sudah di atas 10 ribu rupiah...
Silahkan yang mau mencoba!
Sabtu, 04 Maret 2017
Biaya Melahirkan di RS Meilia Cibubur 2017
|
PERSALINAN SPONTAN |
|||||
|
KELAS
|
III
|
II
|
I
|
UTAMA
|
VIP
|
|
Kamar Bersalin |
1.490.000
|
1.895.000
|
2.180.000
|
2.820.000
|
3.250.000
|
|
Dokter Partus |
2.940.000
|
3.768.000
|
4.508.000
|
5.404.000
|
7.640.000
|
|
Dokter Umum |
290.400
|
376.800
|
450.800
|
540.400
|
764.000
|
|
Alkes Tindakan |
3.000.000
|
3.000.000
|
3.000.000
|
3.000.000
|
3.000.000
|
|
Baby Term |
125.000
|
135.000
|
170.000
|
180.000
|
190.000
|
|
T O T A L |
7.845.400
|
9.174.800
|
10.308.800
|
11.944.400
|
14.844.000
|
|
PERSALINAN DENGAN FORCEP
/VAKUM/SPONTAN |
|||||
|
KELAS
|
III
|
II
|
I
|
UTAMA
|
VIP
|
|
Kamar Bersalin |
1.490.000
|
1.895.000
|
2.180.000
|
2.820.000
|
3.250.000
|
|
Dokter Partus |
3.528.000
|
4.522.000
|
5.410.000
|
6.485.000
|
9.168.000
|
|
Dokter Umum |
352.800
|
452.200
|
541.100
|
648.500
|
916.800
|
|
Alkes Tindakan |
3.500.000
|
3.500.000
|
3.500.000
|
3.500.000
|
3.500.000
|
|
Baby Term |
125.000
|
135.000
|
170.000
|
180.000
|
190.000
|
|
T O T A L |
8.995.800
|
10.504.200
|
11.801.100
|
13.633.500
|
17.024.800
|
|
PERSALINAN DENGAN ILA |
|||||
|
KELAS
|
III
|
II
|
I
|
UTAMA
|
VIP
|
|
Kamar Bersalin |
1.490.000
|
1.895.000
|
2.180.000
|
2.820.000
|
3.250.000
|
|
Dokter Partus |
3.528.000
|
4.522.000
|
5.410.000
|
6.485.000
|
9.168.000
|
|
Dokter Umum |
352.800
|
452.200
|
541.100
|
648.500
|
916.800
|
|
Dokter Anastesi |
1.411.200
|
1.808.800
|
2.164.000
|
2.594.000
|
3.667.200
|
|
Alkes Tindakan |
3.500.000
|
3.500.000
|
3.500.000
|
3.500.000
|
3.500.000
|
|
Baby Term |
125.000
|
135.000
|
170.000
|
180.000
|
190.000
|
|
T O T A L |
10.407.000
|
12.313.000
|
13.965.100
|
16.227.500
|
20.692.000
|
|
PERSALINAN DENGAN OPERASI
SECTIO CAESAREA (OPERASI SEDANG) |
|||||
|
KELAS
|
III
|
II
|
I
|
UTAMA
|
VIP
|
|
Kamar Operasi |
2.820.000
|
2.820.000
|
2.820.000
|
2.820.000
|
2.820.000
|
|
Dokter Operator |
3.675.000
|
4.710.000
|
5.635.000
|
6.755.000
|
9.550.000
|
|
Dokter Anastesi |
1.470.000
|
1.884.000
|
2.254.000
|
2.702.000
|
3.820.000
|
|
Dokter Anak |
735.000
|
942.000
|
1.127.000
|
1.351.000
|
1.910.000
|
|
Alkes Tindakan |
3.500.000
|
3.500.000
|
3.500.000
|
3.500.000
|
3.500.000
|
|
Baby Term |
125.000
|
135.000
|
170.000
|
180.000
|
190.000
|
|
T O T A L |
12.325.000
|
13.991.000
|
15.506.000
|
17.308.000
|
21.790.000
|
|
KURETASE |
|||||
|
KELAS
|
III
|
II
|
I
|
UTAMA
|
VIP
|
|
Kamar Bersalin |
1.490.000
|
1.895.000
|
2.180.000
|
2.820.000
|
3.250.000
|
|
Dokter Partus |
2.630.000
|
3.290.000
|
4.115.000
|
5.140.000
|
6.425.000
|
|
Dokter Anastesi |
1.052.000
|
1.316.000
|
1.646.000
|
2.056.000
|
2.570.000
|
|
Alkes Tindakan |
2.500.000
|
2.500.000
|
2.500.000
|
2.500.000
|
2.500.000
|
|
T O T A L |
7.672.000
|
9.001.000
|
10.441.000
|
12.516.000
|
14.745.000
|
NOTES:
Belum
termasuk biaya kamar perawatan, obat-obatan dan administrasi
Selasa, 13 Desember 2016
Lactation Energy Bites: Done!
![]() |
| Resep Asli LEB |
Si LEB ini gampang banget bikinnya. Tinggal masukin semua bahan jadi satu, aduk-aduk sampai tercampur rata, dibentuk bola-bola trus tinggal masuk freezer. Waktu pembuatannya kurang dari 30 menit (tanpa gangguan ya!).
![]() |
| Cup tempat selai |
LEB yang saya buat mengalami sedikit modifikasi yah... lebih ke takaran bahan-bahannya sih. Penyebabnya karena saya males ngotor-ngotorin si cup takaran yang saya punya. Hahahhaa....
Oke, cuap-cuapnya cukup yah, begini cara saya bikin:
Bahan-bahan:
- 1 cup selai kacang (saya pakai merek Alfamart karena murah sekitar Rp. 13.000,- dan ga mengandung susu sapi)
- 2 cup rolled oatmeal merek Haverjoy (saya pilih merek ini karena murah tapi saya lupa harganya berapa)
- 1 cup chocolate chips (saya pakai perek Collata karena murah dan tidak mengandung susu sapi)
- 3/4 cup flaxseed (saya pakai yang whole (utuh) karena murah, saya beli online di Tokopedia Rp. 15.000,-/250 gr + ongkir Rp. 9.000,-. Karena Flaxseed utuh ini rasanya seperti rumput, jadi saya sangrai dulu sebentar)
- 2/3 cup madu (saya pakai madu TJ karena itu yang ada di rumah)
- 2 bungkus kecil vanili bubuk cap koepoe-koepoe (sekali lagi karena stok yang ada di rumah sepertinya yang dimaksud di resep asli itu vanili berbentuk cair)
![]() |
| Adonan yang sudah tercampur rata |
Cara Pembuatan:
- Masukkan semua bahan ke dalam wadah
- Campur sampai tercampur rata
- Bentuk adonan berbentuk bola-bola (saya bentuk pakai sendok dan berhasil membuat 18 bola-bola dengan ukuran berbeda-beda)
- Masukkan dalam freezer
- LEB siap dinikmati!
![]() | |
| rolled oat |
Tadinya saya sempat ragu mengenai rasa makanan ini. Saya sampai pesan kepada Uti, "Ti...nanti kalo rasanya ga enak, Uti yang abisin yah..."
Hahahhaaa... Iya, saya emang anak kurang ajar..
Kesulitan dalam membuat LEB adalah menjauhkan tangan Baby Ve dari adonan. Si kecil ini lagi seneng-senengnya ngacak-ngacak segala sesuatu. Apalagi yang lagi dikerjakan mamanya. Setelah tidak berhasil membuat bola-bola LEB sambil menggendong samping Baby Ve, dan sempat memakai gendongan carrier dengan cara gemblok, akhirnya si Ve kecil saya serah-terimakan ke papanya. Hahahahaaaa....
Menurut saya rasa LEB ini lumayan enak dan cukup mengenyangkan, yang bikin rasanya kurang OK di lidah saya adalah si Flaxseed. Walaupun sudah di sangrai (boleh ga ya sebenernya di sangrai?!) ternyata rasanya masih aja kurang cocok di lidah saya. Mungkin lebih enak pakai yang sudah digiling ya. Ada kok tapi harganya Rp. 40.000,- /250 gr ada juga yang Rp 35.000,-/225 gr
![]() |
| LEB ala Mama Ve |
Mengenai fungsi sebagai booster ASI belum bisa saya konfirmasi, karena kalau di rumah saya hanya pumping subuh saja, selebihnya dihisap langsung oleh Baby Ve. Subuh tadi sih ASI yang saya perah agak meningkat, sekitar 2 x 90 ml, tapi ada kemungkinan disebabkan oleh jam terakhir Baby Ve menghisap payudara saya yang masih sekitar jam 21.00.
Selamat mencoba!
NOTES:
Ukuran cup yang saya pakai buka cup takaran untuk membuat kue yang standar itu ya, ini saya pakai cup tempat selai kacang ^_^
Jumat, 09 Desember 2016
Harus Coba Bikin! Lactation Cookies
![]() |
| The Miracle Milk Cookie |
Kalau ingin mengetahui jadwal memerah saya, bisa baca Jadwal Memerah Asi ala Mama Ve
Sudah beberapa hari ini saya browsing seantero Pinterest mencari resep-resep kue laktasi, 2 yang paling menarik untuk saya buat adalah The Miracle Milk Cookie dan Lactation Energy Bites alasannya sederhana sih, tampaknya kedua resep itu tidak terlalu sulit dibuat. Tapi ada beberapa bahan yang tidak biasa digunakan untuk pembuatan kue, yaitu brewer's yeast dan flaxseed.
![]() |
| Lactation Energy Bites |
Berbeda dengan flaxseed, untuk brewer's yeast agak sulit ditemukan. Kebanyakan yang ada di (toko on line) Indonesia adalah brewer's yeast untuk binatang peliharaan (kucing dan anjing). Setelah browsing sana-sini, akhirnya di Tokopedia ada juga toko yang menjual brewer's yeast untuk konsumsi manusia, tapi hargaya agak mahal ya, Rp. 109.000 untuk ukuran 250 gr. Pembelian brewer's yeast sepertinya harus ditunda dulu, masuk budget akhir bulan yaaa...
Baiklah, nanti kalau sudah praktek saya akan update lagi...
Kamis, 01 Desember 2016
Jadwal Memerah ASI ala Mama Ve
Buat Ibu bekerja macam saya, memerah ASI merupakan sebuah keharusan. Sering kali menjemukan dan melelahkan namun harus dilakukan demi hasil yang terbaik bagi si kecil.
Saya sudah mulai memerah ASI sejak Ve berusia kurang dari 1 (satu) bulan, namun belum rutin, sesempatnya saja. Hanya untuk mulai membiasakan Ve minum ASIP (ASI Perah). Rutinitas yang sesungguhnya saya mulai saat Ve berusia 1 bulan. Saya memerah setiap pagi. Sebisa mungkin dimulai jam 5 pagi saat Ve belum bangun dan jumlah ASI saya sangat melimpah ruah karena belum dihisap semalaman. Hasilnya, saat kembali bekerja, stok ASIP di freezer ada sekitar 65 botol ex UC.
Berdasarkan sumber-sumber di internet, waktu memerah ASI yang disarankan adalah setiap 2-3 jam sekali. Pada kenyataannya, sebagai praktisi perah (halah!) hal ini sangat sulit untuk dilakukan. apalagi hasil perahan sesi pertama di kantor hanya sedikit. Dalam 1 kali sesi hanya mendapat kurang dari 1 botol ex UC. Selain itu waktu yang dibutuhkan untuk memerah juga tidak sedikit. Mencuci, steril, pakai memakan total waktu setidaknya 45 menit. Kan tidak enak juga ya kalau kita ambil waktu 3x45 menit. Bisa-bisa pekerjaan saya tidak selesai. Akhirnya saya menyerah!
Pada akhirnya, rutinitas memerah yang saya lakukan adalah seperti ini:
04.30-05.15: Memerah ASIP untuk diminum Ve di sebelum jam 11.00
05.45-06.15: Menyusui Ve secara langsung
11.00-11.45: Memerah sesi 1 di kantor
15.30-16.15: Memerah sesi 2 di kantor
20.00 dst. : Menyusui Ve secara langsung
Pada hari kerja, biasanya saya menyusui secara langsung sebanyak 3-4 kali dalam sehari dan konsumsi ASIP Baby Ve selama saya bekerja adalah 3-6 botol ex UC per hari.
Selama memerah di kantor, sampai dengan usia Ve 6 bulan, saya bisa mendapat ASI sebanyak 3-3,5 botol ex UC (@120 ml), sedangkan setelah MPASI saya mendapat 2,5-3,5 botol ex UC. Begitu saya mendapatkan haid pertama saya setelah melahirkan pada pertegahan September, jumlahnya kembali menyusut menjadi 2-3 botol ex UC per hari.
Sedangkan hasil perahan saya saat subuh awalnya saya mendapat 2 botol ex UC per hari (sengaja saya batasi hanya 2 botol karena Baby Ve masih akan menyusu langsung), dan sekarang antara 1-2 botol ex. UC, tergantung jam terakhir Ve minum langsung dari payudara saya.
Selama 3 (tiga) bulan dari pertengahan Mei-Juli 2016 saya mendonorkan sebagian ASI saya untuk Baby Gili, anak dari salah satu rekan kerja saya. Saat itu ASI mamanya sudah tidak keluar karena sejak berusia 3 bulanan Baby Gili bingung puting, tidak mau lagi minum langsung dari payudara mamanya. Akibatnya produksi ASI mamanya pun menurun drastis, diikuti siklus menstruasi yang menyakitkan sebagai penyesuaian pemasangan spiral bahkan pernah prosuksinya hanya 20 ml dalam sehari.
Akhirnya walaupun masih ingin memeberi ASI, Mama Gili menyerah dan memberikan susu formula tepat di usia 6 (enam) bulan.Mekanismenya, setiap hari Senin, Rabu dan Jumat, ASIP yang saya dapat akan dibawa pulang oleh Mama Gili sedangkan hasil perah hari Selasa, Kamis dan Sabtu saya bawa pulang. Memang Baby Gili hanya dapat minum 1-2 botol ASIP sehari, namun cukup lumayan dibanding tidak minum ASI sama sekali.
Kami memang tidak melakukan screening seperti yang seharusnya dilakukan dalam pendonoran ASI, ini tidak patut ditiru sebenarnya. Kami harap niat baik kami tidak mengakibatkan efek yang buruk pada Baby Gili.
Sekarang di usia Baby Ve yang hampir 11 bulan, stok ASI di freezer ada 11 botol UC. Hahahaaa.... sudah bikin saya kebat-kebit.
Saya rasa sudah waktunya saya kembali melakukan power pumping. Terakhir kali (pertama kali) saya melakukan power pumping, jumlah ASI perahan saya berhasil meningat sekitar 20-40%. Jadi walaupun power pumping ini lebih melelahkan dan memakan banyak waktu, rasanya patut dicoba kembali.
Kali ini akan ditambah konsumsi ASI booster favorit saya: Almond! Semoga pesanan Almond saya segera datang... ^_^
Saya sudah mulai memerah ASI sejak Ve berusia kurang dari 1 (satu) bulan, namun belum rutin, sesempatnya saja. Hanya untuk mulai membiasakan Ve minum ASIP (ASI Perah). Rutinitas yang sesungguhnya saya mulai saat Ve berusia 1 bulan. Saya memerah setiap pagi. Sebisa mungkin dimulai jam 5 pagi saat Ve belum bangun dan jumlah ASI saya sangat melimpah ruah karena belum dihisap semalaman. Hasilnya, saat kembali bekerja, stok ASIP di freezer ada sekitar 65 botol ex UC.
Berdasarkan sumber-sumber di internet, waktu memerah ASI yang disarankan adalah setiap 2-3 jam sekali. Pada kenyataannya, sebagai praktisi perah (halah!) hal ini sangat sulit untuk dilakukan. apalagi hasil perahan sesi pertama di kantor hanya sedikit. Dalam 1 kali sesi hanya mendapat kurang dari 1 botol ex UC. Selain itu waktu yang dibutuhkan untuk memerah juga tidak sedikit. Mencuci, steril, pakai memakan total waktu setidaknya 45 menit. Kan tidak enak juga ya kalau kita ambil waktu 3x45 menit. Bisa-bisa pekerjaan saya tidak selesai. Akhirnya saya menyerah!
Pada akhirnya, rutinitas memerah yang saya lakukan adalah seperti ini:
04.30-05.15: Memerah ASIP untuk diminum Ve di sebelum jam 11.00
05.45-06.15: Menyusui Ve secara langsung
11.00-11.45: Memerah sesi 1 di kantor
15.30-16.15: Memerah sesi 2 di kantor
20.00 dst. : Menyusui Ve secara langsung
Pada hari kerja, biasanya saya menyusui secara langsung sebanyak 3-4 kali dalam sehari dan konsumsi ASIP Baby Ve selama saya bekerja adalah 3-6 botol ex UC per hari.
Selama memerah di kantor, sampai dengan usia Ve 6 bulan, saya bisa mendapat ASI sebanyak 3-3,5 botol ex UC (@120 ml), sedangkan setelah MPASI saya mendapat 2,5-3,5 botol ex UC. Begitu saya mendapatkan haid pertama saya setelah melahirkan pada pertegahan September, jumlahnya kembali menyusut menjadi 2-3 botol ex UC per hari.
Sedangkan hasil perahan saya saat subuh awalnya saya mendapat 2 botol ex UC per hari (sengaja saya batasi hanya 2 botol karena Baby Ve masih akan menyusu langsung), dan sekarang antara 1-2 botol ex. UC, tergantung jam terakhir Ve minum langsung dari payudara saya.
Selama 3 (tiga) bulan dari pertengahan Mei-Juli 2016 saya mendonorkan sebagian ASI saya untuk Baby Gili, anak dari salah satu rekan kerja saya. Saat itu ASI mamanya sudah tidak keluar karena sejak berusia 3 bulanan Baby Gili bingung puting, tidak mau lagi minum langsung dari payudara mamanya. Akibatnya produksi ASI mamanya pun menurun drastis, diikuti siklus menstruasi yang menyakitkan sebagai penyesuaian pemasangan spiral bahkan pernah prosuksinya hanya 20 ml dalam sehari.
Akhirnya walaupun masih ingin memeberi ASI, Mama Gili menyerah dan memberikan susu formula tepat di usia 6 (enam) bulan.Mekanismenya, setiap hari Senin, Rabu dan Jumat, ASIP yang saya dapat akan dibawa pulang oleh Mama Gili sedangkan hasil perah hari Selasa, Kamis dan Sabtu saya bawa pulang. Memang Baby Gili hanya dapat minum 1-2 botol ASIP sehari, namun cukup lumayan dibanding tidak minum ASI sama sekali.
Kami memang tidak melakukan screening seperti yang seharusnya dilakukan dalam pendonoran ASI, ini tidak patut ditiru sebenarnya. Kami harap niat baik kami tidak mengakibatkan efek yang buruk pada Baby Gili.
Sekarang di usia Baby Ve yang hampir 11 bulan, stok ASI di freezer ada 11 botol UC. Hahahaaa.... sudah bikin saya kebat-kebit.
Saya rasa sudah waktunya saya kembali melakukan power pumping. Terakhir kali (pertama kali) saya melakukan power pumping, jumlah ASI perahan saya berhasil meningat sekitar 20-40%. Jadi walaupun power pumping ini lebih melelahkan dan memakan banyak waktu, rasanya patut dicoba kembali.
Kali ini akan ditambah konsumsi ASI booster favorit saya: Almond! Semoga pesanan Almond saya segera datang... ^_^
Jumat, 25 November 2016
Dan Baby Ve pun Menginap di Rumah Sakit
Setelah 3 (tiga) kali muntah dan 3 kali mencret pada hari Jumat, 18 November 2016, Baby Ve tidak tertarik untuk menyusu langsung pada saya. Baiklah tidak apa-apa.
Ketika pada hari Sabtu, 19 November 2016 jam 3 pagi Baby Ve terbangun dari tidurnya, saya pikir dia mau menyusu. Saya sodori payudara saya, tapi dia justru tampak mual dan hoek katanya. Dengan sigap saya memindahkan Baby Ve ke pinggir tempat tidur dan memposisikannya agar dapat muntah.
Entah ada yang keluar dari perutnya atau tidak. Saya belum menyalakan lampu saat itu. Akhirnya kami (saya dan Uti) mengalihkan perhatiannya dengan bermain. Namun tak berapa lama Baby Ve kembali menunjukkan reaksi mual. Kembali saya memposisikannya ke pinggir tempat tidur. Kembali saya tidak tahu adakah yang keluar dari reaksi muntahnya kali ini.
Lampu kamar kami nyalakan. Ternyata ada sedikit isi perut Baby Ve di tempat saya memposisikannya untuk muntah. Uti kembali mengajaknya bermain agar ia merasa lebih baik sementara saya memerah ASI di ruangan lain karena ia masih belum mau menyusu. Setelah selesai dan mendengarnya mulai mengoceh, saya pun kembali menawari Baby Ve untuk menyusu pada payudara yang belum saya perah. Ia menyusu cukup banyak, namun tiba-tiba ia berhenti menyusu, dan tidak berapa lama kemudian ia kembali muntah. Kali ini ASI yang baru saja diminumnya.
Setelah membersihkan bekas muntahan, mungkin karena lelah Baby Ve tertidur dengan sendirinya. Saya berharap ketika bangun nanti kondisi baby Ve membaik.
Ternyata harapan saya hanya tinggal harapan. Walaupun Baby Ve masih tetap aktif namun di pagi itu Baby Ve kembali muntah, bahkan sampai 3 kali buang mencret, 2 (dua) diantaranya bahkan berbentuk cairan. Saat kami mencoba memberinya makan ia malah mual dan muntah. Ketika kami berangat menuju Rumah Sakit jam setengah 12, Ve sudah 5 (lima) kali muntah. Di dalam kendaraan Ve kembali muntah (maafkan Bapak Uber) dan saat menunggu antrian dokter, Ve kembali buang air besar.
Tibalah Nama Baby Ve dipanggil Tante Perawat, kami bertemu dengan dr. Yuni Kurnia Sp.A di RS Meilia Cibubur dan setelah dilakukan pemeriksaan dr. Yuni merekomendasikan agar Baby Ve rawat inap di RS karena sudah mengalami dehidrasi, buktinya adalah dari ubun-ubun Baby Ve yang menjadi cekung. Bisa rawat jalan, tetapi pertanyaannya bisakah kami membuatnya ter-rehidrasi dengan memasukkan banyak cairan ke tubuhnya? Saya ragu! Selama ini Baby Ve bukan bayi yang doyan minum air putih, dibandingkan ASI, jumlah air putih yang diminumnya sangat sedikit.
Baiklah Nak, demi kebaikanmu ya... Untuk sementara waktu kita belum bisa pulang ke rumah...
Kami pun turun untuk mengurus pendaftaran rawat inap. Beruntung kantor suami masih memberikan asuransi kesehatan yang berlaku juga untuk anak. Meskipun nilai limitnya hanya Rp. 250.000,- per malam tapi sungguh membuat tenang masalah biaya. Karena biaya di kelas 2 (berisi 3 tempat tidur) Rp. 350.000,- per malam akhirnya kami mengambil kamar kelas 3 (berisi 4 tempat tidur) yang biayanya Rp. 165.000,- per malam.
Hahaha... Saya pelit yah... Bukannya kenapa-kenapa, biaya rawat inap kan tidak sekedar biaya per malam saja, kami yang menunggu pun harus makan, dan mungkin ada biaya-biaya yang tidak masuk dalam cover pertanggungan. Selain itu saya ingat, RS ini tingkat kepadatannya sedang, jadi saya berharap kamar di kelas 3 tidak terisi semua tempat tidurnya sehingga kami cukup leluasa saat menunggui Baby Ve.
Selesai mengurus pendaftaran rawat inap kami kembali ke lantai 2 RS untuk pemasangan infus sebelum masuk ke kamar. Baby Ve sedang menyusu sehingga saya harus sedikit melakukan atraksi untuk mendapatkan posisi yang pas untuk pemasangan infus. Saya harus mendekap tubuh Baby Ve dengan kaki saya di atas kakinya. Menahan agar tidak bergerak saat pemasangann infus. Tangis Baby Ve pecah bahkan sebelum jarum infus menyentuh kulitnya, kakinya pun sempat lolos dari dekapan kaki saya. Pemasangan infus ini diikuti dengan pengambilan darah untuk cek laboratorium.
Selesai pemasangan infus, Baby Ve yang kembali menyusu saya pangku di kursi roda menuju kamar perawatan. Mungkin karena takut, saat kursi mulai di dorong Baby Ve kembali menangis. Sekarang saya mengetahui perasaan ibu yang anaknya menangis saat akan dibawa menuju ruangan rawat inap: saya tidak peduli tuh, saya tidak malu atau merasa risih, saya hanya fokus untuk membuat anak saya merasa nyaman.
Ternyata harapan saya terkabul. Saat kami masuk kamar sekitar jam setengah 2 siang masih ada 1 (satu) tempat tidur yang tidak terisi itu pun akan segera berkurang karena salah satu pasien sudah diperbolehkan pulang, hanya menunggu penyelesaian administrasi pembayaran.
Malam itu kamar kelas 3 hanya terisi 2 pasien ^_^ Bayar kelas 3 rasa kelas 1 ini... hehehehee....
Ketika pada hari Sabtu, 19 November 2016 jam 3 pagi Baby Ve terbangun dari tidurnya, saya pikir dia mau menyusu. Saya sodori payudara saya, tapi dia justru tampak mual dan hoek katanya. Dengan sigap saya memindahkan Baby Ve ke pinggir tempat tidur dan memposisikannya agar dapat muntah.
Entah ada yang keluar dari perutnya atau tidak. Saya belum menyalakan lampu saat itu. Akhirnya kami (saya dan Uti) mengalihkan perhatiannya dengan bermain. Namun tak berapa lama Baby Ve kembali menunjukkan reaksi mual. Kembali saya memposisikannya ke pinggir tempat tidur. Kembali saya tidak tahu adakah yang keluar dari reaksi muntahnya kali ini.
Lampu kamar kami nyalakan. Ternyata ada sedikit isi perut Baby Ve di tempat saya memposisikannya untuk muntah. Uti kembali mengajaknya bermain agar ia merasa lebih baik sementara saya memerah ASI di ruangan lain karena ia masih belum mau menyusu. Setelah selesai dan mendengarnya mulai mengoceh, saya pun kembali menawari Baby Ve untuk menyusu pada payudara yang belum saya perah. Ia menyusu cukup banyak, namun tiba-tiba ia berhenti menyusu, dan tidak berapa lama kemudian ia kembali muntah. Kali ini ASI yang baru saja diminumnya.
Setelah membersihkan bekas muntahan, mungkin karena lelah Baby Ve tertidur dengan sendirinya. Saya berharap ketika bangun nanti kondisi baby Ve membaik.
Ternyata harapan saya hanya tinggal harapan. Walaupun Baby Ve masih tetap aktif namun di pagi itu Baby Ve kembali muntah, bahkan sampai 3 kali buang mencret, 2 (dua) diantaranya bahkan berbentuk cairan. Saat kami mencoba memberinya makan ia malah mual dan muntah. Ketika kami berangat menuju Rumah Sakit jam setengah 12, Ve sudah 5 (lima) kali muntah. Di dalam kendaraan Ve kembali muntah (maafkan Bapak Uber) dan saat menunggu antrian dokter, Ve kembali buang air besar.
Tibalah Nama Baby Ve dipanggil Tante Perawat, kami bertemu dengan dr. Yuni Kurnia Sp.A di RS Meilia Cibubur dan setelah dilakukan pemeriksaan dr. Yuni merekomendasikan agar Baby Ve rawat inap di RS karena sudah mengalami dehidrasi, buktinya adalah dari ubun-ubun Baby Ve yang menjadi cekung. Bisa rawat jalan, tetapi pertanyaannya bisakah kami membuatnya ter-rehidrasi dengan memasukkan banyak cairan ke tubuhnya? Saya ragu! Selama ini Baby Ve bukan bayi yang doyan minum air putih, dibandingkan ASI, jumlah air putih yang diminumnya sangat sedikit.
Baiklah Nak, demi kebaikanmu ya... Untuk sementara waktu kita belum bisa pulang ke rumah...
Kami pun turun untuk mengurus pendaftaran rawat inap. Beruntung kantor suami masih memberikan asuransi kesehatan yang berlaku juga untuk anak. Meskipun nilai limitnya hanya Rp. 250.000,- per malam tapi sungguh membuat tenang masalah biaya. Karena biaya di kelas 2 (berisi 3 tempat tidur) Rp. 350.000,- per malam akhirnya kami mengambil kamar kelas 3 (berisi 4 tempat tidur) yang biayanya Rp. 165.000,- per malam.
Hahaha... Saya pelit yah... Bukannya kenapa-kenapa, biaya rawat inap kan tidak sekedar biaya per malam saja, kami yang menunggu pun harus makan, dan mungkin ada biaya-biaya yang tidak masuk dalam cover pertanggungan. Selain itu saya ingat, RS ini tingkat kepadatannya sedang, jadi saya berharap kamar di kelas 3 tidak terisi semua tempat tidurnya sehingga kami cukup leluasa saat menunggui Baby Ve.
Selesai mengurus pendaftaran rawat inap kami kembali ke lantai 2 RS untuk pemasangan infus sebelum masuk ke kamar. Baby Ve sedang menyusu sehingga saya harus sedikit melakukan atraksi untuk mendapatkan posisi yang pas untuk pemasangan infus. Saya harus mendekap tubuh Baby Ve dengan kaki saya di atas kakinya. Menahan agar tidak bergerak saat pemasangann infus. Tangis Baby Ve pecah bahkan sebelum jarum infus menyentuh kulitnya, kakinya pun sempat lolos dari dekapan kaki saya. Pemasangan infus ini diikuti dengan pengambilan darah untuk cek laboratorium.
Selesai pemasangan infus, Baby Ve yang kembali menyusu saya pangku di kursi roda menuju kamar perawatan. Mungkin karena takut, saat kursi mulai di dorong Baby Ve kembali menangis. Sekarang saya mengetahui perasaan ibu yang anaknya menangis saat akan dibawa menuju ruangan rawat inap: saya tidak peduli tuh, saya tidak malu atau merasa risih, saya hanya fokus untuk membuat anak saya merasa nyaman.
Ternyata harapan saya terkabul. Saat kami masuk kamar sekitar jam setengah 2 siang masih ada 1 (satu) tempat tidur yang tidak terisi itu pun akan segera berkurang karena salah satu pasien sudah diperbolehkan pulang, hanya menunggu penyelesaian administrasi pembayaran.
Malam itu kamar kelas 3 hanya terisi 2 pasien ^_^ Bayar kelas 3 rasa kelas 1 ini... hehehehee....
Rabu, 21 September 2016
Power Pumping!
Proyek baru lagi nih.. namanya power pumping, dan lagi-lagi dapet dari Pinterest! Hahahaiii....
Buat saya menyusui itu bukan hal yang mudah. Banyak harga yang harus dibayar. Dari puting lecet-lecet, bangun tengah malam karena baby Ve lapar sampai rutin pumping supaya punya cukup stok ketika sudah kembali masuk kantor. Iya, semuanya perjuangan.
Saya selalu bangun sebelum jam 5 pagi untuk mendapatkan 2 botol ASI perah (ASIP) dan hal ini masih berlangsung sampai sekarang di usia baby Ve yang 8,5 bulan. tapi sekarang kalau bisa dapat 2 botol di pagi hari buat saya itu WOW banget. Sekarang rata-rata hanya dapat 1-1,5 botol saja. Dan itu pun saya sangat bersyukur.
Di kantor pun tantangan tersendiri. Saya harus bisacuri-curi mengatur waktu sedemikian rupa supaya pasokan ASIP baby Ve selama saya bekerja tetap terpenuhi. Pada awal kembali bekerja saya bisa mendapatkan 3,5 botol per hari bahkan saya sempat mendonorkan ASIP saya untuk anak teman kantor saya selama sekitar 2 bulan. Namun sejak sekitar 2 bulan yang lalu sedikit demi sedikit hasil perahan saya menurun. 2 minggu terakhir ini paling banyak saya hanya mendapat 2,5 botol per hari.
Aaah... sedih rasanya... mulai galau. Tapi ya memang ini akibat kesalahan sendiri, jadwal pumping saya di kantor kurang teratur. Tergantung ketersediaan waktu dan load pekerjaan. Selain itu, baby Ve sempat bingung puting, gadis kecil itu lebih memilih ngenyot jempol dari pada menyusu langsung pada saya. Sediiiiih....!!!
Jadi waktu kemarin (lagi-lagi) tidak sengaja lihat gambar cara meningkatkan pasokan ASIP, saya pun langsung bertekad mencoba metode power pumping ini. Metode ini sebenernya sudah beberapa kali saya dengar, tapi entah mengapa saya tidak pernah berpikir untuk mencari tau lebih lanjut. Akhirnya pertemuan tak sengaja dengan cara melakuan metode ini membawa saya untuk mempraktikannya.
Menurut theasianparent.com, power pumping adalah cara memompa ASI yang meniru frekuensi menyusu pada bayi yang sedang mengalami growth spurt.
Growth spurt adalah saat-saat di mana bayi membutuhkan ASI ataupun susu formula lebih banyak daripada biasanya, karena sedang dalam masa pertumbuhan yang pesat.
Pada saat-saat itu, bayi akan menyusu lebih sering, lebih lama, dengan hisapan lebih kuat sehingga hormon prolaktin memerintahkan otak untuk memproduksi ASI lebih banyak.
Caranya seperti berikut:
Nah yang beda-beda itu frekuensinya, ada yang bilang 2-3 kali sehari, ada yang bilang 1 kali sehari. Tapi tanpa mengurangi jadwal pumping harian dan dilakukan secara rutin ya.. Hasilnya bervariasi pada setiap orang. Ada yang sudah merasakan hasilnya sejak 48 jam setelah pertama kali melakukan power pumping, ada pula yang baru erasakannya setelah melakukan power pumping selama 1 minggu.
Kalau saya sih mau coba yang 2-3 kali sehari.
Tadi (tengah) malam saya sudah coba power pumping yang pertama. Hasilnya pada sesi terakhir ada ASI yang mengucur lagi, Let Down Reflect (LDR) pada kedua payudara, dan jumlah totalnya cukup banyak sekitar 40 ml. Cukup membuat senyum lebar yahh...
Jam makan siang tadi saya juga sudah melakukannya lagi, hasilnya sama ada LDR tapi hanya pada payudara kanan payudara kiri tidak sampai LDR walaupun ada ASI yang keluar. Total hasil perahan sesi siang bertambah sekitar 30 ml.
Baiklah kita teruskan sampai 2-3 hari ke depan. Semoga hasilnya memuaskan. Amiiiiin!
Buat saya menyusui itu bukan hal yang mudah. Banyak harga yang harus dibayar. Dari puting lecet-lecet, bangun tengah malam karena baby Ve lapar sampai rutin pumping supaya punya cukup stok ketika sudah kembali masuk kantor. Iya, semuanya perjuangan.
Saya selalu bangun sebelum jam 5 pagi untuk mendapatkan 2 botol ASI perah (ASIP) dan hal ini masih berlangsung sampai sekarang di usia baby Ve yang 8,5 bulan. tapi sekarang kalau bisa dapat 2 botol di pagi hari buat saya itu WOW banget. Sekarang rata-rata hanya dapat 1-1,5 botol saja. Dan itu pun saya sangat bersyukur.
Di kantor pun tantangan tersendiri. Saya harus bisa
Aaah... sedih rasanya... mulai galau. Tapi ya memang ini akibat kesalahan sendiri, jadwal pumping saya di kantor kurang teratur. Tergantung ketersediaan waktu dan load pekerjaan. Selain itu, baby Ve sempat bingung puting, gadis kecil itu lebih memilih ngenyot jempol dari pada menyusu langsung pada saya. Sediiiiih....!!!
![]() |
| Power Pumping 3x sehari selama 3 hari |
Menurut theasianparent.com, power pumping adalah cara memompa ASI yang meniru frekuensi menyusu pada bayi yang sedang mengalami growth spurt.
Growth spurt adalah saat-saat di mana bayi membutuhkan ASI ataupun susu formula lebih banyak daripada biasanya, karena sedang dalam masa pertumbuhan yang pesat.
Pada saat-saat itu, bayi akan menyusu lebih sering, lebih lama, dengan hisapan lebih kuat sehingga hormon prolaktin memerintahkan otak untuk memproduksi ASI lebih banyak.
Caranya seperti berikut:
- 20 menit pumping
- 10 menit istirahat
- 10 menit pumping
- 10 menit istirahat
- 10 menit pumping
- Selesai
![]() |
| Apa itu Power Pumping |
Kalau saya sih mau coba yang 2-3 kali sehari.
Tadi (tengah) malam saya sudah coba power pumping yang pertama. Hasilnya pada sesi terakhir ada ASI yang mengucur lagi, Let Down Reflect (LDR) pada kedua payudara, dan jumlah totalnya cukup banyak sekitar 40 ml. Cukup membuat senyum lebar yahh...
Jam makan siang tadi saya juga sudah melakukannya lagi, hasilnya sama ada LDR tapi hanya pada payudara kanan payudara kiri tidak sampai LDR walaupun ada ASI yang keluar. Total hasil perahan sesi siang bertambah sekitar 30 ml.
Baiklah kita teruskan sampai 2-3 hari ke depan. Semoga hasilnya memuaskan. Amiiiiin!
![]() |
| Perbedaan Power Pumping untuk dual pump dan single pump |
Jumat, 16 September 2016
Mencoba Baby Sign Language (Bahasa Isyarat Bayi)
Hai hai....Umur baby Ve sudah 8 (delapan) bulan nih dan mamanya ini pengen coba ngajarin baby Ve Baby Sign Language (BSL)
Mungkin para mommy di Indonesia belum familiar yah dengan BSL, ya sama kok saya juga baru tau soal BSL ini. Jadi kemaren-kemaren itu sebenernya lagi liat-liat model dress di Pinterest soalnya Aunty Petty mau nikah bulan Oktober 2016 nanti trus Mommy Ve dikasih bahan buat seragam. Yaaa langsung dong semangat '45 cari model dress yang kece biar pengantennya kalah.. Hahahhaaa... ya gak mungkin kan yah...
Yaoloooooh ngelantur deh sayah... Ehem... Iya, jadi waktu lagi liat-liat model dress di Pinterest, tanpa sengaja saya liat gambar tentang BSL, begitu saya klik gambarnya muncul deh link gambar-gambar lain tentang BSL ini. Karena penasaran, akhirnya saya mulai brosing-brosing soal BSL dan memutuskan untuk memulai proyek BSL buat Baby Ve.
BSL merupakan sarana komunikasi antara orang tua (dan orang-orang disekitar bayi) dengan bayi sebelum bayi dapat berkomunikasi secara verbal. Jadi sel-sel otot bayi berkembang lebih dahulu dibandingkan dengan sel-sel syaraf di lidahnya. Inilah yang menyebabkan bayi dapat menggunakan tangan untuk berkomunikasi dengan orang tua dan lingkungannya.
Kenapa diputuskan dalam waktu singkat? Soalnya pas-pasan banget, katanya BSL bisa dimulai waktu bayi berusia 8 bulan daaaann usia Baby Ve kan emang pas banget yah 8 bulan. Tapi kita ga bisa berharap hasilnya akan instan langsung bisa gitu. Ada kalanya hasilnya baru bisa dilihat setelah 2 (dua) bulan, tapi katanya manfaatnya banyaaaak... Apa saja manfaatnya????
![]() |
| BSL Basic Chart 1 |
Buat Anak:
- Anak yang menguasai dua bahasa (bilingual) memiliki daya ingat yang lebih baik daripada anak yang menguasai satu bahasa. Selain itu juga mengarahkan bayi untuk melakukan perencanaan, penyelesaian masalah dan hal lain yang membutuhkan pemikiran.
- Mengurangi frustasi dan tantrum (kemarahan). Bayi belum dapat berbicara sehingga tangisan menjadi satu-satunya alat komunikasi mereka saat menginginkan atau membutuhkan sesuatu.
- Penelitian menunjukkan, anak yang belajar bahasa isyarat memiliki kalimat dan kosa kata yang lebih banyak pada usia 2 tahun. Area otak yang berfungsi untuk memahami arti dan simbol terstimuli dengan penggunaan bahasa isyarat sehingga anak lebih mudah mempelajari kata-kata baru, mempelajari ejaan dan meningkatkan kemampuan membaca.
- Rata-rata IQ anak yang mempelajari bahasa isyarat lebih tinggi 12 poin. Mereka lebih mampu memperhatikan dan menyimpan informasi
![]() |
| BSL Basic Chart 2 |
- Stress berkurang.
- Memiliki hubungan (koneksi) yang lebih dalam dengan anak.
- Lebih mudah memberikan respon yang tepat ketika anak merasa kesal.
Proyek ini sudah saya mulai dari hari Rabu, 14 September 2016. Tapi ya itu, baru saya aja yang ngelakuin, orang-orang rumah walau sudah saya ajak masih belom mulai... Masih ngerasa aneh kali yah. Semoga aja niat baik ini bisa tereksekusi dengan baik.
Enak kan kalo anak kita ga dikit-dikit nangis hahahaaa.... Good luck for me!
Selasa, 16 Agustus 2016
Biaya Persalinan di RSIA Restu Kasih 2016
Tanggal 11 Agustus 2016 kemarin istri dari kakak saya melahirkan di RSIA Restu Kasih secara caesar menggunakan fasilitas BPJS kesehatan. Ga keluar biaya apapun alias gratis. Cerita lengkapnya menyusul yaaa....
Jadi sambil nunggu2 saya ambil kesempatan nanya biaya persalinan terbaru. Menurut saya kenaikannya cukup wow dibandingkan tahun 2015 yang saya share di sini.
Nanti saya bikinin tabelnya, tapi sekarang saya kasih fotonya dulu aja ya...
Perkiraan biaya ini hanya untuk ibu. Kalau bayi sehat biayanya antara 1-3 juta, kalau ada masalah akan lebih mahal.
Untuk biaya USG 4D nya juga lumayan besar kenaikannya. Biaya tahun ini Rp. 580.000,-, untuk pasien baru akan dikenakan tambahan biaya pembuatan kartu sebesar Rp 15.000,-
Pendapat saya tentang rumah sakit ini:
1. Agak sempit ya... bentuknya memanjang seperti ruko dan proses renovasi masih berlangsung jadi ya agak kurang nyaman kalau saya
2. Toiletnya kurang bersih. Petugas kebersihannya kurang sering membersihkan toilet sehingga toilet yang seharusnya toilet kering jadi agak basah. Sampah tissu juga sering kali melebihi kapasitas tempat sampah. Dan toiletnya hanya ada 2 bilik untuk 1 lantai dan tidak dibedakan lelaki dan perempuan.
3. Aturan kunjungan cukup ketat. Baby Ve yg berusia 7 bulan tidak boleh masuk ruang perawatan. Jadinya harus gantian deh nengokinnya sama uti...
1. Agak sempit ya... bentuknya memanjang seperti ruko dan proses renovasi masih berlangsung jadi ya agak kurang nyaman kalau saya
2. Toiletnya kurang bersih. Petugas kebersihannya kurang sering membersihkan toilet sehingga toilet yang seharusnya toilet kering jadi agak basah. Sampah tissu juga sering kali melebihi kapasitas tempat sampah. Dan toiletnya hanya ada 2 bilik untuk 1 lantai dan tidak dibedakan lelaki dan perempuan.
3. Aturan kunjungan cukup ketat. Baby Ve yg berusia 7 bulan tidak boleh masuk ruang perawatan. Jadinya harus gantian deh nengokinnya sama uti...
Itu dulu ya... saya agak pusing mengetik di dalam bus..
Senin, 11 Juli 2016
Biaya Persalinan di RSIA Restu Kasih 2015
Berhubung sampai sekarang saya masih belum sempat mampir ke RSIA Restu Kasih untuk tanya-tanya update biaya persalinan/melahirkan tahun 2016, jadi untuk sementara, sama seperti RS Hermina Jatinegara, saya buatkan tabel biaya melahirkan tahun 2015 yang sumbernya dari forum ibu-ibu hamil.
Sumbernya ada di sini
Akhirnya saya kesampaian juga ke RSIA Restu Kasih tanggal 10 Agustus 2016 yang lalu, informasi biaya melahirkan/persalinan terbaru bisa dibaca disini
| Tabel Biaya Persalinan | ||||
| RSIA Restu Kasih-Cililitan | ||||
| Tahun 2015 | ||||
| Kelas Perawatan | Normal | Caesar | ||
| VIP | 9.000.000 | 21.000.000 | ||
| Kelas I | 7.000.000 | 16.000.000 | ||
| Kelas II | 6.000.000 | 13.000.000 | ||
| Kelas III | 5.000.000 | 10.000.000 | ||
| Notes | ||||
| * | Biaya tersebut belum termasuk biaya pendaftaran obat dll., baru biaya tindakan dan kamar saja | |||
| * | RSIA ini baru direnovasi sehingga fasilitas masih bagus | |||
| * | Paket Rujukan Bidan untuk Caesar kelas 3 biayanyaRp. 8.000.000,- | |||
| * | Biaya USG 4D tahun 2015 hanya Rp. 390.000,- | |||
Sumbernya ada di sini
Akhirnya saya kesampaian juga ke RSIA Restu Kasih tanggal 10 Agustus 2016 yang lalu, informasi biaya melahirkan/persalinan terbaru bisa dibaca disini
Biaya Persalinan di RS Hermina Jatinegara 2015
Kalau informasi soal biaya persalinan/melahirkan di RS Hermina Jatinegara tahun 2015 ini saya dapat dari salah satu forum ibu-ibu hamil. Supaya lebih enak dilihat, saya buatkan dalam bentuk tabel.
| Tabel Biaya Persalinan | |||||
| RS Hermina Jatinegara | |||||
| Tahun 2015 | |||||
| Kelas Perawatan | Normal (3 Hari) | ILA (4 Hari) | SC (5 hari) | ||
| Suite Room | 20.282.750 | 26.152.600 | 35.263.500 | ||
| SVIP | 16.953.750 | 22.138.300 | 30.635.100 | ||
| VIP | 15.493.750 | 20.176.550 | 28.284.100 | ||
| Kelas I | 11.104.750 | 14.716.850 | 22.913.900 | ||
| Kelas II | 8.400.500 | 11.357.400 | 18.377.600 | ||
| Kelas III | 6.288.000 | 8.408.250 | 13.814.800 | ||
| Notes | |||||
| Biaya tersebut belum termasuk : | |||||
| 1 | Biaya administrasi 7 % dari total kuitansi | ||||
| 2 | Tarif jasa medis visit dokter | ||||
| 3 | Tarif pemeriksaan lab dan penunjang medis lainnya | ||||
| 4 | Obat-obatan | ||||
Sumber data ada di sini
Senin, 27 Juni 2016
Tentang Rumah Vaksinasi Cibubur
Berikut adalah informasi mengenai RV Cibubur yang saya
rangkum dari blog RV Cibubur (per 5 April 2013 yang saya update per 27 Juni
2016):
Lokasi RV Cibubur sudah pindah dari samping Apotik Budi Lestari, masih di Jl. Kelapa Dua Wetan, tapi di samping lapangan parkir/basket kompleks perumahan Indokisar seperti di foto ini:
Buka setiap hari (7 hari seminggu) dengan jadwal:
Senin-Jumat: 17.00-20.00 WIB
Sabtu : 08.00-12.00 WIB
Minggu : 08.00-11.00 WIB
Selama Ramadhan (tahun 2016), RV Cibubur hanya praktek pagi:
Senin-Sabtu: 09.00-12.00
Kamis: TUTUP
Minggu: 09.00-11.00
Informasi terupdate mengenai RV Cibubur juga bisa diperoleh melalui twitter dan facebook berikut:
Twitter: @rvaksincibubur
Facebook Fanpage: Rumah Vaksinasi Cibubur
Untuk mendapatkan Price List Rumah Vaksinasi Cibubur, kita bisa mengirimkan email kosong ke:
rvaksincibubur@gmail.com
RV Cibubur akan membalas email anda dengan Price List.
Update per 11 Juli 2016
Kunjungan ke RV Cibubur sudah saya lakukan tanggal 3 Juli 2016. Pelayanannya menyenangkan, pemeriksaannya cukup lengkap dan dr. Febi juga informatif. Perkembangan Baby Ve diperhatikan, saran-saran mengenai MPASI pun diberikan.
Ternyata riset tentang MPASI saya sangat amat kurang. Beruntung saya melakukan vaksinasi PCV 2 di RV Cibubur. Bu dokter memberi PeeR saya untuk browsing mengenai MPASI WHO. Rangkumannya akan saya berikan pada tulisan terpisah ya.
Untuk vaksinasi PCV 2 (Prevenar) Baby Ve, biaya yang saya keluarkan adalah Rp. 782.800,- dengan rincian:
- Vaksin Prevenar Rp. 750.000,- (HET Rp. 850.000,-)
- Biaya Administrasi Rp. 10.000,- (karena pembayaran menggunakan kartu kredit)
- Fee kartu kredit (3%) Rp. 22.800,-
Kalau kita membayar secara cash hanya akan dikenakan biaya vaksin.
Vaksinasi berikutnya pasti ke RV Cibubur lagi ^_^
Lokasi RV Cibubur sudah pindah dari samping Apotik Budi Lestari, masih di Jl. Kelapa Dua Wetan, tapi di samping lapangan parkir/basket kompleks perumahan Indokisar seperti di foto ini:
![]() |
| Peta Menuju Rumah Vaksinasi Cibubur |
Buka setiap hari (7 hari seminggu) dengan jadwal:
Senin-Jumat: 17.00-20.00 WIB
Sabtu : 08.00-12.00 WIB
Minggu : 08.00-11.00 WIB
Selama Ramadhan (tahun 2016), RV Cibubur hanya praktek pagi:
Senin-Sabtu: 09.00-12.00
Kamis: TUTUP
Minggu: 09.00-11.00
Kontak dan pendaftaran ke RV Cibubur dapat dilakukan ke nomor 0813-8170-3070 untuk
telepon, SMS, WhatsApp dan Line, sedangkan untuk pin BBM 271F736A. Walaupun bisa datang langsung, RV Cibubur lebih suka kalau kita melakukan
pendaftaran terlebih dahulu supaya ketersediaan
vaksin bisa dikonfirmasi. Format pendaftaran dapat dilakukan dengan format:
NAMAspasiUMURspasiALAMATspasiVAKSINYANGDIPESAN
Saya sudah melakukan kontak melalui WhatsApp dan responnya cepat. Untuk konfirmasi ketersediaan vaksin dilakukan H-1.
NAMAspasiUMURspasiALAMATspasiVAKSINYANGDIPESAN
Saya sudah melakukan kontak melalui WhatsApp dan responnya cepat. Untuk konfirmasi ketersediaan vaksin dilakukan H-1.
Informasi terupdate mengenai RV Cibubur juga bisa diperoleh melalui twitter dan facebook berikut:
Twitter: @rvaksincibubur
Facebook Fanpage: Rumah Vaksinasi Cibubur
Untuk mendapatkan Price List Rumah Vaksinasi Cibubur, kita bisa mengirimkan email kosong ke:
rvaksincibubur@gmail.com
RV Cibubur akan membalas email anda dengan Price List.
Saya sudah coba email ke RV Cibubur dan langsung dibalas dengan pemberian Price List RV Cibubur seperti berikut.
Untuk teman-teman yang ingin mengetahui lokasi RV lainnya dapat melihat daftar berikut:
![]() |
| Daftar Harga Vaksin RV Cibubur |
![]() |
| Alamat Rumah Vaksinasi |
Update per 11 Juli 2016
![]() |
| Bukti Pembayaran RV Cibubur |
Ternyata riset tentang MPASI saya sangat amat kurang. Beruntung saya melakukan vaksinasi PCV 2 di RV Cibubur. Bu dokter memberi PeeR saya untuk browsing mengenai MPASI WHO. Rangkumannya akan saya berikan pada tulisan terpisah ya.
Untuk vaksinasi PCV 2 (Prevenar) Baby Ve, biaya yang saya keluarkan adalah Rp. 782.800,- dengan rincian:
- Vaksin Prevenar Rp. 750.000,- (HET Rp. 850.000,-)
- Biaya Administrasi Rp. 10.000,- (karena pembayaran menggunakan kartu kredit)
- Fee kartu kredit (3%) Rp. 22.800,-
Kalau kita membayar secara cash hanya akan dikenakan biaya vaksin.
Vaksinasi berikutnya pasti ke RV Cibubur lagi ^_^
Langganan:
Postingan (Atom)
















